meraup untung dari asap cair

“Meraup untung dari asap cair”

Ada yang tau apa itu asap cair atau liquid smoke. Asap cair atau liquid smoke ialah sebuah cairan yang dihasilkan dari pembakaran tempurung kelapa yang mempunyai beberapa manfaat yang bisa menghasilkan uang. Bagi para pengerajin arang, asap cair ialah hal yang sering dibicarakan dan menjadi diam-diam umum akan tetapi masih banyak para pengerajin yang belum mengerti cara memanfaatkan asap cair secara maksimal.

asap cair memang sangat banyak digunakan terutama di Negara eropa. Adapun beberapa manfaat dari asap cair ialah sebagai pengawet makanan, materi baku kosmetik, disenfetan , materi penyubur tumbuhan atau tanah, pembeku lateks, penghilang aroma tidak sedap dan masih banyak lainya.

Pengolahan asap cair berawal dari pembakaran batok atau tempurung kelapa secara tidak eksklusif yang menghasilkan asap yang didestilasi hingga menghasilkan cairan yang disebut asap cair. Asap cair mempunyai beberapa grade yang mempunyai proses beberapa kali destilasi sehingga menghasilkan manfaat yang berbeda beda. Dalam proses asap cair akan saya jelaskan di artikel saya selanjutnya secara lebih terperinci

Berikut ini ialah dongeng seorang pengusaha asap cair yang menghasilkan keuntungan jutaan dari asap cair . semoga menjadi wangsit anda untuk memulai sebuah usaha yang menghasilkan keuntungan.

produk asap cair atau liquid smoke. Sesuai namanya, benda ini berbentuk cair. Liquid smoke memiliki banyak fungsi, mulai dari pengawet makanan, materi baku kosmetik, disinfektan, hingga menjadi penyubur tanah dan pupuk. Di pasar ketika ini, banyak penawaran asap cair mulai grade 1 hingga grade premium. Semakin bening maka nilai jualnya makin tinggi.

https://rios-bisnis.blogspot.co.id

Asap cair premium, sebagai contoh, banyak diburu oleh industri kosmetik. Harganya bisa mencapai Rp 400.000 per liter. Setiap grade asap cair memiliki spesifikasi fungsi berbeda. Grade 3 biasanya banyak digunakan orang sebagai disinfektan pengusir lalat dan serangga. Sedangkan grade 2 banyak digunakan untuk pengawet makanan ibarat ikan bakar. Warna asap cair jenis ini bening kekuningan dan sudah tidak mengandung tar.

Adapun grade 1 memiliki warna lebih bening. Jenis ini banyak dipakai sebagai pengawet makanan mulai bakso, mi, dan lain-lain. Harga asap cair di pasar berkisar Rp 20.000 hingga Rp 45.000 per liter. Salah satu produsen asap cair asal Malang, Jawa Timur, Yamin Massinay menuturkan, potensi ajakan produk asap cair meningkat seiring kemunculan larangan pemerintah perihal penggunaan formalin untuk pengawet makanan.

Yamin mulai membuat liquid smoke semenjak , memakai mesin produksi buatan sendiri. Mesin buatan Yamin bisa memproduksi asap cair sekaligus dalam tiga tingkat.

Begitu arang dibakar, balasannya bisa eksklusif terbagi dalam tiga grade asap cair. “Proses pembakarannya tertutup sehingga asap yang dihasilkan tidak tercampur udara. Teknik ini menjaga kandungan asap cair,” kata dia. Sebagian produsen masih memakai teknik manual, yaitu menyuling ulang asap cair grade 3 berkali-kali hingga menjadi grade 2 dan 1. Cuma cara ini, menurut Yamin, kurang efisien.

Permintaan asap cair produksi Yamin terbanyak berasal dari Sumatra. Mereka kebanyakan merupakan produsen mi berair yang membutuhkan pengawet selain formalin. Setiap bulan, Yamin bisa mengirim 6.000 liter asap cair ke pelanggannya di Sumatra. Perusahaan ikan dan pengepul ikan juga menjadi target pasar Yamin. Asal tahu saja, liquid smoke bisa mengawetkan ikan hingga 6 bulan tanpa mengubah rasa ataupun tekstur.

Sofhal Jamil juga gres menekuni usaha ini dua tahun terakhir. Sejatinya, usaha pembuatan asap cair Jamil sebatas sampingan. Usaha utamanya ialah arang dan briket. Walau masih sampingan, Jamil pernah mengirim lima ton asap cair ke Jepang. “Di Jepang, banyak dipakai untuk mandi antiseptik dan detoksifikasi,” terangnya.

Dalam satu bulan, Jamil yang berdomisili di Manado, Sulawesi Utara itu sekarang bisa memproduksi sekitar 100 liter asap cair. Pelanggan lokal kebanyakan ialah produsen makanan olahan. Ada pula ajakan dari industri hotel dan restoran yang memakai asap cair untuk mengusir hama. Jamil memproduksi asap cair grade 1 dan 3 saja.

Pasar yang mulai tumbuh untuk produk asap cair ini turut pula memikat minat Ahmad Qomaruddin, pembuat asap cair di Yogyakarta. Sedari awal, Ahmad cuma memproduksi asap cair food grade (aman dikonsumsi manusia). Maklum, pasar yang ia sasar ialah pelaku usaha dan produsen makanan. Ahmad membuat sendiri mesin pengolah asap cair yang memakan modal hingga Rp 75 juta. Dia memilih materi mesin dari stainless steel ketimbang memakai drum atau alat berbahan dasar besi. “Supaya kualitas asap cair tidak terkontaminasi karat di besi,” kata dia.

Kini, Ahmad bisa memproduksi asap cair sekitar 200 liter hingga 300 liter per bulan. Pelanggannya bukan cuma pelaku industri pangan. Para petani karet juga banyak yang membeli asap cair produksinya. “Asap cair berkhasiat mengurangi busuk karet dan membuat karet lebih elastis,” terang Ahmad.

https://rios-bisnis.blogspot.co.id

Bahan baku melimpah

Bila Anda meminati usaha asap cair, duduk perkara materi baku mungkin tidak terlalu menjadi persoalan. Sebagai negara pesisir, pohon kelapa tumbuh subur di negeri ini. Pasokan batok kelapa melimpah. Bahan baku asap cair biasanya dari kayu, bongkol kelapa sawit, sekam, tempurung kelapa, dan lain-lain. Tidak asing bila asap cair kerap menjadi produk turunan para produsen arang atau briket.

Jamil yang memproduksi arang dan briket, per bulan menghabiskan sekitar 200 ton batok kelapa sebagai materi baku. Nah, asap yang tercipta dari proses pembuatan dua produk itu, ia ubah memiliki nilai jual sebagai liquid smoke. Adapun Ahmad membeli materi baku asap cair dari pedagang kelapa di Yogyakarta. Harga batok kelapa tergolong murah, tak hingga Rp 1.000 per kilogram. Batok kelapa di pasar malah banyak yang menjadi limbah penjual kelapa. Kendati tidak ada angka pasti pasokan materi baku, dalam sehari Ahmad rata-rata mengolah 120 kilogram hingga 500 kilogram batok kelapa.

Setiap pembakaran 120 kilogram batok kelapa, Ahmad bisa menghasilkan 60 liter asap cair grade 3. Asap cair jenis ini akan ia suling lagi menjadi 30 liter liquid smoke tingkat 2 atau 20 liter grade 1. Sedangkan Yamin biasa memproduksi 180 liter asap cair per hari dalam kondisi ajakan normal. Pasokan materi baku juga selalu melimpah dan bisa didapatkan dengan harga murah. Lantas, bagaimana dengan margin keuntungan bisnis ini? Yamin mengaku mengambil untung tidak banyak. “Sekitar 20% hingga 40%,” ujar dia.

Problem sertifikasi

Sekilas, usaha asap cair ini terlihat mudah. Bahan baku melimpah dan ajakan pasar mulai bertumbuh pesat. Namun, bukan berarti usaha asap cair tidak menghadapi kendala. Jamil berujar, ajakan asap cair dari luar negeri cukup menjanjikan. Namun, ongkos kirim nan mahal membuat produk ini kurang ekonomis. Maklum, basis produksi Jamil ada di Manado. Alhasil, ia masih fokus memenuhi ajakan pasar lokal sembari tetap membuka pintu bagi pembeli asing.

Memanfaatkan tren digital, produsen asap cair juga aktif mempromosikan produk mereka lewat jaringan internet. Selain membuat blog atau situs berisi serba-serbi gosip perihal asap cair, para produsen juga memasarkan lewat marketplace luar, ibarat Alibaba atau Rakuten.

Penjualan melalui susukan online juga dibarengi pendekatan ke pelanggan potensial, mulai dari produsen makanan, pabrik pengolahan makanan hingga perusahaan ikan dan kawasan lelang ikan.

Kendala lain ialah terkait sertifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Minuman (BPOM). Mayoritas produsen asap cair, terutama yang food grade, belum mendaftarkan produk mereka ke BPOM. Dus, sertifikasi keamanan asap cair sejauh ini belum ada.

Jamil mengungkapkan, apabila asap cair didaftarkan ke BPOM, ia masuk kategorinya di kelompok perasa alami, alih-alih masuk materi pengawet aman. Biaya sertifikasi BPOM juga tidak murah. Yamin mengaku pernah diminta sekitar Rp 120 juta untuk mengurus sertifikasi BPOM. Padahal dengan uang sebesar itu, ia bisa memanfaatkannya untuk menggenjot kapasitas produksi. “Belum lagi, biaya Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) yang bisa terkena Rp 60 juta,” ujar dia. Namun, meski belum mengantongi sertifikasi BPOM, para produsen asap cair optimistis, ajakan produk ini bakal terus melesat ke depan seiring tren pangan organik dan perkembangan bisnis kuliner. Produsen harus rajin mengedukasi pasar biar ajakan asap cair semakin moncer.

Semoga juga, BPOM kelak menekan biaya perizinannya.

Tertarik mencoba?
Advertisements