pengusaha cacing penghasilan 50 juta perbulan

 “pengusaha cacing penghasilan 50 juta perbulan”

Berternak cacing,,? Wow siapa yang tak kenal dengan hewan satu ini hewan yang tak mempunyai tulang belakang ini memang hewan yang menjijikkan bagi hampir setiap kalangan masyarakat, tetapi bagi pria yang hobby memancing ini merupakan hawan kegemaranya. Berbeda dengan bapak cacing yang satu ini. Dia yakni seorang wirausahawan yang sukses dalam berternak cacing bahkan menghasilkan puluhan juta dalam sebulan hanya dengan berternak cacing. Berikut kita simak kisah kehidupanya dalam berternak cacing yang menghasilkan puluhan juta rupiah setiap bulanya.
Abdul Azis Adam Maulida. Bagi laki-laki yang bersahabat disapa Adam ini, semenjak empat tahun lalu cacing justru menjadi sumber pendapatan.
Sejak menamatkan pendidikan sarjana di Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Adam sudah punya niat berwirausaha. Namun niat itu terkubur lantaran tak menemukan ide usaha. Adam pun memutuskan menjadi

karyawan di sebuah pabrik kertas. Selama sepuluh tahun, Adam bekerja di PT Tjiwi Kimia, di Mojokerto, Jawa Timur.

Baru pada ia meninggalkan pekerjaan itu. “Menurut saya, jikalau bekerja di perusahaan, seseorang susah berkembang alasannya yakni harus berhadapan dengan batasan dari sistem perusahaan tersebut. Sementara di luar begitu banyak peluang yang menanti,” ujar lelaki berusia 39 tahun ini.
Adam pun memantapkan diri untuk memulai usaha sendiri. Ia kembali ke tanah kelahirannya, Malang, Jawa Timur, pada awal dan memilih agribisnis dengan menggeluti budidaya belut yang sedang ngetren kala itu. Adam menggelontorkan modal sebesar Rp 20 juta, termasuk untuk membeli sekitar dua kuintal belut.
Namun, Adam tak menyangka, banyak kendala dalam beternak belut. Sejak awal, ia sering mendapati belut-belut itu mati. “Pokoknya, sulit sekali bagi saya untuk membudidayakan belut sehingga hanya enam bulan saya beternak belut,” kata dia. Padahal Adam sudah ikut banyak sekali seminar mengenai pembiakan belut.
Yang tersisa hanyalah pakan belut, yakni cacing tanah sebanyak empat kilogram. Dia mengamati, ketika semua belutnya mati, cacing-cacing itu tetap bertahan, bahkan, berkembang. Dari situlah Adam mendapat ide untuk membudidayakan cacing yang memiliki nama latin Lumbricus rubellus.
Tepatnya, pada Agustus , Adam mulai membiakkan cacing tanah. Sebelumnya, ia mempelajari seluk-beluk budidaya cacing tanah. Selain membaca buku, Adam juga berguru secara autodidak dengan praktik eksklusif di lapangan.
Dengan modal Rp 200.000, ayah seorang anak ini membeli indukan cacing. Selanjutnya, untuk media, ia membeli kotak kayu ukuran 40 cm x 50 cm yang ditumpuk hingga 12 tingkat. Jadi, Adam tak perlu lahan yang terlalu luas.
Adam tak perlu membeli makanan cacing. Cacing mampu diberi makan dari limbah rumahtangga maupun limbah pasar. Ia mengolah limbah dari para tetangganya untuk dijadikan pakan cacing. “Cara membudidayakan cacing memang sangat mudah. Makanya saya tertarik dan tak pernah berpikir untuk berhenti hingga sekarang,” tutur dia. 
https://rios-bisnis.blogspot.co.id

Bapak cacing

Adam mengaku, ketika mulai merintis budidaya cacing, ia belum menerima pasar sama sekali. Hingga pada selesai , ia mendapat titik terang. Seorang pemilik daerah pemancingan mendatangi peternakannya untuk memesan cacing.
Dulu, Rumah Cacing, nama peternakan cacing milik Adam, hanya mampu memproduksi lima kilogram cacing per minggu. Akan tetapi, kini, ia mampu memproduksi hingga tujuh ton cacing tanah per bulan. Omzetnya pun meningkat pesat. Dalam sebulan Adam mampu mengantongi sekitar Rp 300 juta.
Adam bilang, ia butuh proses cukup panjang untuk mampu menemui kesuksesan menyerupai dikala ini. Setelah memasok cacing untuk beberapa daerah pemancingan di Malang, Adam semakin giat meningkatkan produksi. Nama Adam pun mulai dikenal penduduk Malang. Ia bahkan disebut-sebut orang sebagai Bapak Cacing.
Pada ia mendapat order untuk memasok cacing oleh Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur. Sayang, Adam belum mampu eksklusif menyanggupi. Pasalnya, produksi cacingnya per bulan belum mencapai satu ton, menyerupai undangan Dinas Perikanan itu.
Tak hilang akal, Adam menularkan ilmunya ke orang lain. Dia melaksanakan sosialisasi soal cacing ke masyarakat di sekitar Malang, sekaligus mengajak mereka untuk ikut membudidayakan cacing. “Saya ajak mereka untuk datang ke Rumah Cacing, lalu saya ajari cara beternak cacing,” ucap dia.
Di awal, usaha ini belum berbuah banyak. Hanya ada dua orang yang mau bergabung dengan Adam. Lalu, Adam menyebarkan sistem plasma dengan lebih terkoordinasi. Dengan sistem plasma, siapa pun yang bergabung akan mendapat pelatihan dari Rumah Cacing. Selanjutnya, Adam akan membeli hasil panen cacing dari anggota plasma.
Sampai dikala ini, Adam sudah memiliki sekitar 1.600 anggota plasma. Namun, tidak semua anggota mampu konsisten memasok cacing padanya. “Dari keseluruhan jumlah anggota, sekitar 700 orang aktif menjual hasil panennya pada saya,” kata dia.
Suami Heni Nur Rahmania ini bilang, dalam sehari mampu disambangi sekitar 100 orang yang ingin berguru budidaya cacing. Adam menuturkan, budidaya cacing bahwasanya sangat gampang. Lagipula tingkat keberhasilan budidaya cacing hampir 100 persen. Hanya, isu mengenai peluang budidaya cacing masih tergolong sedikit.
Sejauh ini, Adam tak menemukan penyakit atau hama yang mengganggu pertumbuhan cacing. “Kalau sudah tahu peluang usahanya pasti tertarik alasannya yakni mudah,” tandas dia.
Selain mengandalkan pasokan dari anggota plasma, Adam pun masih terus memproduksi cacing. Bedanya, sekarang ia sudah memperkerjakan delapan orang karyawan. Kandang cacing pun sudah tak menggunakan kotak kayu lagi. Adam membangun 100 bak yang dibuat dari batubata. Sekarang, Adam jadi pemasok utama cacing tanah untuk Dinas Perikanan Provinsi Jatim. Ia juga masih melayani penjualan kepada para pemilik usaha pemancingan dan pengusaha perikanan.
https://rios-bisnis.blogspot.co.id

Pengusaha tak mampu berhenti

Menanggalkan status karyawan di perusahaan besar bukan hal mudah bagi Abdul Azis Adam Maulida. Kedua orangtuanya sempat menentang. Maklum, mereka bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Makara ketika Adam mengungkapkan harapan untuk menjadi pengusaha, eksklusif tak mendapat respons baik dari orangtuanya.
Namun tekad Adam sudah bulat, meski ia sadar, usahanya tak eksklusif besar dalam sehari. “Setidaknya saya keluar dari sistem perusahaan dan mampu menciptakan sistem saya sendiri dengan potensi yang saya punya,” tutur Adam.
Dia berpesan, pengusaha harus terus berkembang. Tak ada lagi batasan yang menghalangi untuk berkembang selain diri sendiri. “Pelajari dulu peluang usaha. Kalau memang bagus, terus kembangkan, jangan berhenti alasannya yakni pengusaha tak boleh mandek,” tegasnya.
Adam menegaskan peluang berbudidaya cacing masih sangat terbuka. Pembeli cacing sangat beragam, mulai pengusaha perikanan, peternak unggas hingga industri kosmetik dan farmasi. Tahun ini, Adam ingin menyasar industri farmasi. Namun, ia ingin membenahi produksinya sebelum memasok pasar baru. “Saya akan menambah anggota plasma untuk mendongkrak produksi,” ucap dia.
Adam menambahkan, dari budidaya cacing, ia mampu menyebarkan banyak potensi bisnis yang lainnya. Sejauh ini, Adam sudah merintis banyak sekali usaha yang masih bekerjasama dengan bisnis utamanya. Misalnya saja, kebun jahe organik yang dikembangkan dengan pupuk dari kotoran cacing.
Selain itu, ia memiliki peternakan kambing, ayam, dan empang ikan yang akan mengonsumsi cacing untuk penggemukan. “Saya ingin kembangkan lebih banyak lagi dan saya juga memotivasi anggota plasma untuk sama-sama berkembang,” ungkap dia.
Inilah sekilas kisah sukses pak adam atau sering disebut bapak cacing semuga dengan membaca artikel ini anda mampu mendapat pandangan gres untuk memulai berternak cacing. Jangan pernah merasa sepele dalam memulai usaha lakukan lah usaha itu dengan keseriusan. Dan hal yang terpenting dalam melaksanakan sebuah usaha yakni mencintai usaha itu terlebih dahulu gres dari kecintaan anda dari sebuah usaha itu yang akan menghasilkan keuntungan layaknya menyerupai yang dikatakan bob sandino
Advertisements